Pengalaman Viral Rombongan Travel di Labuan Bajo
Beberapa waktu lalu, sebuah insiden viral menimpa rombongan travel yang berkunjung ke Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur. Mereka kaget setelah makan seafood di Kawasan Kuliner Kampung Ujung dan harus membayar sebesar Rp16 juta, termasuk pajak 10 persen. Kejadian ini membuat mereka merasa digetok harga karena harga yang diberikan dinilai terlalu mahal.
Rombongan tersebut terdiri dari 20–30 orang, dan total tagihan awalnya mencapai Rp14 juta sebelum ditambah pajak 10 persen menjadi Rp16 juta. Namun, setelah dilakukan perhitungan ulang, jumlah tersebut turun menjadi Rp11 juta. Meski demikian, insiden ini tetap dianggap sebagai contoh yang tidak baik oleh para pengunjung.
Salah satu pihak yang menyampaikan kekecewaannya adalah Ketua Umum ASTINDO, Pauline Suharno. Ia mengungkapkan bahwa nota pembayaran hanya ditulis tangan, sehingga menimbulkan pertanyaan tentang kejelasan pajak. “Kami ini taat pajak, tapi mau tahu uang pajak itu benar-benar disetor atau tidak,” katanya.
Menurut Pauline, harga yang diberikan seharusnya tidak sama antara wisatawan lokal dan mancanegara. “Kami ini turis domestik, mestinya ada perlakuan berbeda,” tambahnya. Ia juga menilai bahwa pihak pedagang seharusnya memberitahukan harga makanan sejak awal, sebelum menu disajikan.
Penjelasan dari Pedagang
Pernyataan Pauline dibantah oleh pedagang berinisial Y. Menurut Y, kabar soal “getok harga” tidak benar. Ia menegaskan bahwa semua informasi harga telah diberitahukan sejak awal. “Tidak benar tuduhan itu. Semuanya sudah dijelaskan di awal,” kata Y.
Menurut Y, kejadian bermula ketika seorang pria datang sekitar pukul 18.00 WITA dan memesan makanan untuk 18 orang. Saat itu, pelanggan diberi pilihan ikan lokal atau ikan ekspor yang harganya berbeda. “Kepiting di akuarium harganya Rp350 ribu per kilogram karena ukurannya besar. Ikan ekspor Rp300 ribu per kilogram, dan lobster Rp700 ribu,” jelasnya.
Pembeli, kata Y, setuju dengan harga tersebut. Bahkan saat rombongan tiba dan jumlah tamu bertambah menjadi 26 orang, pesanan juga meningkat. Termasuk tambahan lima kepiting, lima lobster, tiga cumi besar, serta berbagai menu ikan dan udang.
Saat tagihan disampaikan, sebagian anggota rombongan memprotes harga yang dianggap terlalu tinggi. Namun, Y menegaskan semua harga telah diberitahukan di awal. Ia bahkan meminta nelayan yang memasok ikan untuk menjelaskan langsung harga pasarannya. “Nelayan membenarkan harga itu sesuai harga ekspor. Tapi ada yang malah marah dan bilang ikan di laut kan gratis,” tutur Y.
Ia menegaskan total tagihan sebenarnya Rp15,8 juta termasuk pajak, dan rombongan akhirnya membayar Rp14,3 juta setelah meminta potongan harga. “Jadi bukan karena salah hitung, tapi karena mereka minta diskon,” katanya sambil menunjukkan bukti transfer.
Komentar dan Perspektif Berbeda
Insiden ini menimbulkan berbagai reaksi dari berbagai pihak. Beberapa menganggap bahwa harga yang diberikan terlalu mahal, sementara yang lain berpendapat bahwa harga tersebut sesuai dengan kualitas produk yang diberikan. Masalah utamanya adalah transparansi informasi harga sejak awal, serta kejelasan dalam pembayaran pajak.
Sebagai konsumen, penting bagi kita untuk selalu memastikan bahwa informasi harga sudah jelas sebelum melakukan pembelian. Selain itu, pengelola kuliner juga sebaiknya memberikan penjelasan yang lengkap agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.















