Perayaan Waisak 2570 BE di Borobudur Berdampak Positif pada Ekonomi Lokal
Perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (BE) di kawasan Candi Borobudur tidak hanya menjadi momen spiritual bagi umat Buddha, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi yang signifikan bagi masyarakat sekitar. Tingginya kunjungan umat dan wisatawan dari berbagai daerah hingga mancanegara membuat tingkat hunian hotel dan homestay di kawasan Borobudur mencapai kapasitas maksimal.
Dampak Ekonomi yang Signifikan
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sumarno, menyebutkan bahwa antusiasme masyarakat terhadap perayaan Waisak tahun ini memberikan dampak ekonomi yang besar. “Semua penginapan dan homestay di sini penuh,” ujarnya saat menghadiri Dharmasanti Waisak di Borobudur, Minggu (31/5) malam.
Menurutnya, tingginya okupansi penginapan menjadi indikator meningkatnya pergerakan wisatawan yang datang ke Borobudur selama rangkaian perayaan Waisak berlangsung. Dampak positif tersebut tidak hanya dirasakan oleh pelaku usaha akomodasi, tetapi juga pedagang makanan, penjual cendera mata, jasa transportasi lokal, hingga pelaku usaha kecil lainnya yang berada di sekitar kawasan wisata.
“Ini tentu memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi masyarakat. Dengan banyaknya pengunjung yang datang, perputaran ekonomi di kawasan Borobudur ikut meningkat,” ujarnya.
Sumarno berharap momentum Waisak dapat menjadi pemicu pertumbuhan sektor pariwisata secara berkelanjutan di Kabupaten Magelang dan Jawa Tengah. “Harapannya, ini bisa memicu peningkatan kunjungan wisata ke Borobudur ke depan,” terangnya.
Tren Peningkatan Pengunjung
Ia menilai tren peningkatan jumlah pengunjung setiap tahun menjadi sinyal positif bagi masa depan destinasi wisata super prioritas tersebut. Sementara itu, Ketua Umum DPP WALUBI, Hartati Murdaya, mengakui bahwa perkembangan wisata religi di Borobudur telah memberikan dampak nyata terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat, terutama pada sektor penginapan dan homestay.
“Pertumbuhan homestay sangat pesat. Tapi saat Waisak, jumlahnya tetap belum cukup menampung seluruh pengunjung,” katanya. Menurut Hartati, lonjakan jumlah umat Buddha yang datang setiap tahun menunjukkan bahwa Borobudur semakin dikenal sebagai destinasi wisata religi dunia. Bahkan, tingginya kebutuhan akomodasi disebut telah mendorong tumbuhnya hotel-hotel baru di wilayah Magelang untuk memenuhi permintaan wisatawan yang terus meningkat.
Euforia Lampion Menjadi Daya Tarik Utama
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Magelang, Usep Syarifudin, membenarkan bahwa perayaan Waisak selalu menjadi momen dengan tingkat hunian tertinggi bagi industri perhotelan di Magelang. “Setiap Waisak pasti penuh. Bahkan sering kekurangan kamar karena permintaan jauh lebih tinggi,” ujarnya.
Usep mengungkapkan, kondisi tersebut telah berlangsung secara konsisten dalam tiga tahun terakhir. Tingginya permintaan kamar tidak hanya berasal dari umat Buddha yang mengikuti rangkaian ibadah Waisak, tetapi juga wisatawan yang ingin merasakan atmosfer perayaan di Borobudur. “Sekarang banyak yang datang karena ingin ikut euforia lampion. Itu yang membuat permintaan kamar melonjak,” sambungnya.
Tradisi pelepasan lampion yang menjadi salah satu agenda paling dinanti dalam perayaan Waisak disebut menjadi magnet utama yang menarik wisatawan untuk datang ke Borobudur. Menjelang malam puncak pelepasan lampion, kawasan Borobudur kembali dipadati ribuan pengunjung. Banyak wisatawan datang sejak pagi bahkan beberapa hari sebelumnya demi mendapatkan pengalaman menyaksikan festival lampion dari lokasi terbaik.
Kontribusi Besar Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah
Lonjakan kunjungan tersebut menunjukkan bahwa perayaan Waisak tidak hanya memiliki nilai spiritual dan budaya, tetapi juga berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Kehadiran ribuan wisatawan setiap tahun menjadikan Borobudur sebagai salah satu penggerak utama sektor pariwisata dan ekonomi masyarakat di Kabupaten Magelang.
Dengan meningkatnya jumlah pengunjung dari tahun ke tahun, berbagai pihak berharap perayaan Waisak dapat terus menjadi momentum untuk memperkuat posisi Borobudur sebagai destinasi wisata religi kelas dunia sekaligus membuka peluang ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat setempat.



















