Wisata Alami Cekdam di Kabupaten Boalemo
Destinasi wisata alami yang dikenal dengan nama Cekdam berada di Desa Piloliyanga, Kecamatan Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Gorontalo. Tempat ini menawarkan pemandangan yang indah dengan air bendungan yang jernih dan udara yang sejuk di tengah perkebunan hijau. Cekdam menjadi pelarian sempurna bagi warga yang ingin merasakan kesejukan dan ketenangan di akhir pekan.
Cekdam sebenarnya merupakan bendungan kecil yang memiliki aliran air langsung dari pegunungan. Meski mulai dikenal sejak tahun 2000-an, tempat ini tetap mempertahankan sisi alaminya sebagai destinasi wisata alternatif keluarga dan kerabat. Lokasinya tersembunyi di balik rimbunnya perkebunan warga, sehingga membuat pengunjung merasa seperti sedang menjelajahi hutan yang asri.
Pantauan menunjukkan bahwa Cekdam menyuguhkan panorama bendungan yang apik dengan area perkebunan hijau. Udara di lokasi ini terasa sangat sejuk, jauh dari hiruk-pikuk kebisingan kota. Namun, akses menuju lokasi ini cukup ekstrem. Pengunjung harus melewati jalur yang melibatkan lintasan sungai dangkal dan jalanan berbatu yang dikelilingi deretan pohon kelapa. Meski tantangan tersebut ada, namun setelah sampai di lokasi, pengunjung akan merasa terbayar lunas.
Secara geografis, lokasi ini cukup strategis namun tetap terasa privat. Berikut adalah beberapa titik akses utama:
- Dari Pelabuhan Tilamuta: Berjarak sekitar 6,1 km atau sekitar 13 menit perjalanan.
- Dari Bandara Djalaluddin Gorontalo: Berjarak sekitar 71 km dengan waktu tempuh kurang lebih 1 jam 42 menit.
- Ke Pusat Kota Gorontalo: Bagi pengunjung yang datang dari pusat Kota Gorontalo, jarak yang harus ditempuh adalah sekitar 95 km hingga 100 km dengan waktu perjalanan darat berkisar antara 2,5 hingga 3 jam, tergantung pada kondisi lalu lintas dan kecepatan kendaraan.
Meskipun belum populer secara luas di seluruh Kabupaten Boalemo, Cekdam telah menjadi lokasi favorit warga Tilamuta untuk menikmati sore hari. Daya tarik tempat ini mulai menyebar melalui media sosial Facebook, hingga memikat pengunjung dari luar daerah, seperti Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo.
Aktivitas pengunjung di sini beragam; ada yang memacu adrenalin dengan melompat dari atas bendungan, berenang di air yang jernih, hingga merasakan sensasi pancuran air terjun dari pipa-pipa di dinding bendungan. Salah satu pengunjung, Zulmikran Lahilote (22), mengungkapkan kekagumannya terhadap keasrian tempat ini.
“Saya baru pertama kali datang ke Cekdam, ternyata wisata Cekdam ini sangat bagus dan alami, airnya jernih ketimbang bendungan yang lain, serta masih terjaga”, ungkap Zulmikran kepada tim liputan.
Suasana tenang dengan hembusan angin sejuk di antara pepohonan menjadikannya tempat ideal untuk menyegarkan pikiran. Namun, Zulmikran juga menitipkan pesan penting bagi para pelancong.
“Saya berharap pengunjung dan masyarakat bisa mengontrol sampah agar Cekdam tidak akan tercemar”, tambah Zulmikran.
Status dan Fasilitas
Sebagai destinasi yang masih sangat alami dan “tersembunyi”, fasilitas umum seperti mushola, toilet, maupun pedagang makanan belum tersedia di lokasi. Jalan menuju titik utama pun masih berupa bebatuan. Kabar baiknya, hingga saat ini belum ada tarif masuk alias gratis bagi siapa saja.
Hairun Podu (34), warga lokal yang kerap beraktivitas di lokasi tersebut, menjelaskan alasan di balik minimnya fasilitas komersial.
“Cekdam sebenarnya bukan tempat wisata, ini hanyalah bendungan yang dijadikan pengendali banjir, sehingga belum diterapkan biaya. Namun banyak masyarakat yang menjadikan ini sebagai tempat wisata untuk berlibur di akhir pekan”, ujar Hairun.
Menurut Hairun, awalnya lokasi ini lebih sering digunakan sebagai tempat memancing karena areanya yang luas. Ia pun menceritakan bahwa bendungan ini sempat mengalami penyempitan akibat material tanah dan bebatuan yang terbawa banjir besar di Desa Piloliyanga beberapa waktu silam.
Keasrian Cekdam ini diprediksi akan terus menarik minat wisatawan, apalagi lokasinya kini berdekatan dengan area pembangunan Batalyon TNI yang baru.



















