Kondisi Geopolitik di Timur Tengah yang Memanas
Kondisi geopolitik di kawasan Timur Tengah semakin memburuk setelah terjadi serangan dari Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran. Hal ini menimbulkan kekhawatiran bagi warga negara Indonesia yang berada di wilayah tersebut, khususnya Pekerja Migran Indonesia (PMI). Sebagai respons terhadap situasi ini, Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) merekomendasikan seluruh WNI untuk segera mengunduh aplikasi Safe Travel.
Aplikasi ini dikembangkan oleh Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan dirancang untuk membantu pemerintah dalam mendeteksi keberadaan WNI di tengah ancaman konflik. Menurut Sekretaris Jenderal SBMI, Juwarih, fitur-fitur dalam aplikasi ini sangat penting, terutama saat situasi sedang tidak stabil seperti saat ini.
“Kami menyarankan agar para pekerja migran atau WNI yang ada di Iran segera mengunduh aplikasi Safe Travel dan memberikan informasi keberadaannya kepada perwakilan kami di sana,” ujar Juwarih saat dihubungi.
Menurut Juwarih, meskipun aplikasi ini sudah lama tersedia, mungkin masih kurang tersosialisasi. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya penggunaan aplikasi ini sebagai alat komunikasi dan pelacakan keberadaan WNI di luar negeri.
Eskalasi Konflik dan Dampaknya
Eskalasi konflik mencapai titik tertentu setelah serangan rudal AS-Israel terhadap Teheran pada hari Sabtu (28/2/2026), yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Akibatnya, Iran mengumumkan masa berkabung selama 40 hari dan libur sepekan. Selain itu, Iran juga meluncurkan serangan balasan terhadap Israel dan fasilitas militer AS.
Situasi ini membuat nasib PMI di wilayah konflik menjadi perhatian utama SBMI. Meski secara resmi, Indonesia tidak memiliki penempatan PMI ke Iran, fakta menunjukkan bahwa beberapa PMI tetap bekerja di sana. Mayoritas dari mereka berasal dari negara-negara Timur Tengah lain seperti Bahrain, Oman, atau Qatar sebelum akhirnya dibawa masuk ke Iran.
Data dan Faktor Ekonomi
Juwarih menjelaskan bahwa PMI di Iran umumnya adalah tenaga profesional atau mahasiswa yang bekerja sambil kuliah. Sangat jarang ditemukan WNI yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Ia memperkirakan jumlah PMI di Iran tidak terlalu banyak, terutama karena faktor nilai tukar mata uang.
“Walaupun Iran merupakan negara kuat dan maju, kurs mata uangnya jika dibandingkan dengan Rupiah, Indonesia masih lebih tinggi. Jadi, pekerja migran kita sangat jarang ke sana kalau dari awal perekrutan,” jelas Juwarih.
SBMI juga telah melakukan pelacakan melalui media sosial dan pemberitaan setelah mendapat kabar tentang serangan Israel-AS ke Iran. Hasilnya, belum ada laporan WNI asal Jawa Barat yang menjadi korban atau terjebak di area konflik.
Langkah Antisipasi dan Advokasi
Meski hingga saat ini belum ada laporan resmi, SBMI tetap memastikan akan segera bertindak jika ada WNI yang terdampak. Sebagai langkah antisipasi, SBMI mendesak Kementerian Luar Negeri dan Kedutaan Besar RI di Iran untuk memperketat pengawasan dan memberikan imbauan rutin kepada para WNI.

















